Iklan Promosi Sulawesi

5 Alasan AS Serang Iran lewat Operasi Kemarahan Epik, Termasuk Seruan Ganti Rezim

Serangan gabungan AS dan Israel ke Iran dalam Operasi Kemarahan Epik pada Sabtu.

Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran pada Sabtu yang disebut sebagai operasi paling ambisius dalam beberapa waktu terakhir. Operasi militer itu diberi nama “Operation Epic Fury” atau Operasi Kemarahan Epik dan dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Langkah ini menjadi pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar Presiden AS Donald Trump. Serangan dilakukan di tengah citranya sebagai “presiden perdamaian” saat kampanye pemilihan kembali serta pernyataannya yang sebelumnya mengedepankan jalur diplomasi dalam menghadapi kebuntuan dengan Iran.

Trump tidak menyampaikan argumen panjang kepada publik sebelum serangan dilancarkan. Namun dalam pidato kenegaraan Selasa lalu dan pesan video yang dirilis Sabtu, ia memaparkan lima tujuan utama serangan terhadap Iran.

Berikut lima alasan yang disampaikan:

1. Mencegah Iran Memperoleh Senjata Nuklir

Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Dalam pesan videonya, ia menyatakan telah menghancurkan program nuklir Iran dalam serangan Juni lalu, namun pekan ini menuduh Teheran berupaya membangunnya kembali.

“Bayangkan betapa beraninya rezim ini jika mereka pernah memiliki dan benar-benar dipersenjatai dengan senjata nuklir sebagai sarana untuk menyampaikan pesan mereka,” katanya pada Sabtu, seperti dikutip AFP, Minggu (1/3/2026).

AS dan Israel sebelumnya menyebut Iran semakin dekat memproduksi senjata nuklir. Namun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan komunitas intelijen AS secara terpisah menilai Iran telah menutup program pengembangan senjata nuklir pada 2003, sementara Teheran membantah pernah berupaya memilikinya dan menyatakan pengayaan uranium dilakukan untuk tujuan sipil sesuai Perjanjian Non-Proliferasi.

Negara-negara Barat menilai tidak ada pembenaran sipil yang kredibel atas tingkat pengayaan uranium Iran saat ini. IAEA bahkan menyebutnya sangat mengkhawatirkan, seraya mencatat tidak ada negara lain yang melakukan hal serupa tanpa akhirnya memproduksi senjata nuklir.

2. Mengendalikan Program Rudal Iran

Dalam pidato kenegaraan dan pesan Sabtu, Trump juga menyoroti perkembangan program rudal Iran. Ia menyebut kemajuan tersebut sebagai ancaman yang kian serius bagi Amerika Serikat dan sekutunya.

“Iran telah berupaya untuk terus mengembangkan rudal jarak jauh yang sekarang dapat mengancam teman dan sekutu kita yang sangat baik di Eropa, pasukan kita yang ditempatkan di luar negeri, dan dapat segera mencapai tanah air Amerika,” ujarnya.

Trump tidak merinci bukti atas klaim tersebut. Namun media pemerintah Iran sebelumnya mengklaim Teheran tengah mengembangkan rudal yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.

3. Menghilangkan Ancaman Iran dan Proksinya

Trump menyatakan tujuan serangan Sabtu adalah “untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman langsung dari rezim Iran, sebuah kelompok kejam yang terdiri dari orang-orang yang sangat keras dan mengerikan.”

Ia menambahkan, “Aktivitas mengancam Iran secara langsung membahayakan Amerika Serikat, pasukan kita, pangkalan kita di luar negeri, dan sekutu kita di seluruh dunia.”

Trump merujuk sejumlah peristiwa, termasuk pengambilalihan Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979 yang menyandera puluhan warga Amerika selama 444 hari. Ia juga menyinggung serangan terhadap barak Marinir AS di Beirut pada 1983 yang menewaskan 241 personel militer Amerika, serta berbagai serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah dan jalur pelayaran internasional.

Selain itu, ia menunjuk dukungan Iran terhadap Hamas yang melancarkan serangan lintas batas ke Israel pada 7 Oktober 2023.

4. Menghukum Iran atas Tindakan terhadap Demonstran

Dalam pidato kenegaraannya, Trump menuduh Iran telah membunuh sedikitnya 32.000 pengunjuk rasa dalam beberapa bulan terakhir, angka yang tidak dapat diverifikasi.

Pada Sabtu, ia kembali menyebut Iran membunuh “puluhan ribu warganya sendiri di jalanan saat mereka berdemonstrasi.”

Kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, dalam laporan terbarunya mencatat 7.007 kematian yang telah terverifikasi dan 11.744 kasus lainnya masih dalam peninjauan. Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut pemerintah telah merilis “daftar lengkap” berisi 3.117 korban tewas.

Seorang pejabat Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa pihak berwenang telah memverifikasi sedikitnya 5.000 kematian, termasuk sekitar 500 personel keamanan.

5. Seruan Perubahan Rezim

Trump secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih kekuasaan dari para pemimpinnya. “Saya katakan malam ini bahwa saat kebebasan Anda sudah dekat,” ujarnya.

“Setelah kita selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk generasi mendatang.”

Trump, yang memantau operasi dari resor Mar-a-Lago di Florida, menyatakan pada Sabtu sore bahwa Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut. Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kompleks kediaman Khamenei telah hancur, dan seorang pejabat senior Israel menyebut jenazahnya telah ditemukan.

Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian Khamenei. Meski menyerukan perubahan rezim, Trump juga memperingatkan, “Pengeboman besar-besaran dan tepat sasaran… akan terus berlanjut, tanpa henti sepanjang minggu atau, selama diperlukan untuk mencapai tujuan kita yaitu PERDAMAIAN DI SELURUH TIMUR TENGAH DAN, MEMANG, DI SELURUH DUNIA!”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup