Iklan Promosi Sulawesi

Puluhan Santri di Jombang Diduga Keracunan Saat Buka Puasa, Dapur Program MBG Ikut Terseret Sorotan

Sebanyak 32 santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Jombang, mengalami mual dan muntah setelah menyantap hidangan berbuka puasa yang salah satu menunya berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jombang — Dugaan keracunan makanan menimpa puluhan santri di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, setelah menyantap hidangan berbuka puasa di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Jumat, 6 Maret 2026.

Peristiwa ini bukan sekadar insiden kesehatan biasa. Kasus tersebut juga membuka perhatian publik terhadap pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jombang.

Data yang dihimpun menunjukkan, sebanyak 80 santri mengonsumsi hidangan berbuka puasa yang salah satu menunya berasal dari paket program MBG.

Tak lama setelah makan, 32 santri dilaporkan mengalami keluhan kesehatan seperti mual dan muntah yang mengarah pada dugaan keracunan makanan.

Dari jumlah tersebut, 10 santri telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Sementara 22 santri lainnya masih menjalani perawatan medis.

Menu yang disajikan saat berbuka puasa antara lain nasi rawon, tahu goreng, tahu kering, dan telur asin. Seluruh hidangan tersebut diberikan dalam satu porsi kepada setiap santri.

Sejumlah santri menyebut beberapa komponen lain dari paket MBG seperti roti, susu, kacang, dan kurma belum sempat dikonsumsi saat berbuka.

Informasi awal menyebutkan rawon dan tahu kering dimasak oleh pihak pondok pesantren. Sementara asal telur asin yang turut disajikan masih dalam proses penelusuran.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dr. Hexawan Tjahja Widada mengatakan pihaknya telah mengamankan sejumlah sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.

Sampel tersebut meliputi rawon, telur asin, serta muntahan pasien. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan sumber penyebab dugaan keracunan.

“Rawon diketahui dimasak oleh pihak pondok. Sementara untuk telur asin masih kami telusuri apakah berasal dari program SPPG atau disiapkan sendiri oleh pondok. Penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujar Hexawan.

Salah satu santri yang masih menjalani perawatan, Azizah Putri Salsabila (15), mengaku mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi telur asin dari menu MBG.

“Setelah mengkonsumsi telur asin saya mengalami gejala keracunan, mual lalu muntah. Kondisi telurnya kayak beda, ada bau seperti busuk, tapi tetap saya makan,” jelasnya.

Dugaan Permainan di Balik Dapur MBG

Di tengah penyelidikan penyebab keracunan, muncul informasi yang memunculkan pertanyaan baru terkait pengelolaan dapur program MBG di Jombang.

Seorang pemasok telur untuk dapur SPPG di Jombang yang enggan disebutkan namanya mengungkap adanya dugaan praktik tidak sehat dalam rantai pasok bahan pangan.

Ia menyebut terdapat indikasi praktik mark-up harga bahan baku oleh sejumlah mitra dapur MBG.

“Selain itu, ada juga supplier yang ‘dicekik’ dengan diminta menjual bahan jauh di bawah harga pasar. Tapi dalam laporan atau klaim tetap ditulis sesuai harga normal,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian pemasok terpaksa menekan biaya produksi, termasuk dengan menurunkan kualitas bahan pangan yang mereka kirimkan.

Jika kondisi itu benar terjadi, maka kualitas bahan makanan yang masuk ke dapur MBG berpotensi ikut terdampak dan bisa membahayakan penerima manfaat program.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemasok bahan pangan untuk dapur SPPG di Jombang umumnya hanya didominasi oleh satu atau dua pihak yang ditunjuk langsung oleh mitra dapur.

“Yang bisa masuk sebagai pemasok biasanya yang berani menawarkan harga paling murah, jauh di bawah standar pasar,” katanya.

Padahal, dalam konsep awal program MBG, dapur SPPG diharapkan mampu memberdayakan petani, peternak, nelayan, koperasi, hingga pelaku UMKM lokal sebagai pemasok bahan pangan.

Selain dugaan permainan harga bahan baku, muncul pula informasi mengenai indikasi keterlibatan oknum aparat dalam rantai pasok dapur MBG.

Seorang kepala SPPG di Jombang menyebut ada dugaan pihak tertentu yang meminta menjadi pemasok tunggal daging ayam.

“Yang saya dengar ada dugaan aparat ikut mencari keuntungan di mitra SPPG. Diduga dengan meminta menjadi pemasok tunggal ayam dan mengambil keuntungan sekitar Rp5.000 per kilogram,” ujarnya.

Informasi-informasi tersebut kini menjadi bagian dari sorotan publik, seiring proses penelusuran penyebab pasti keracunan makanan yang masih berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup