Iklan Promosi Sulawesi

Patrol Sahur, Tradisi Ramadan yang Mulai Terlupakan

Adi
Kegiatan Patroli Sahur Pada Bulan Puasa Mulai Terlupakan

Setelah sehari-an penuh menunaikan ibadah puasa, berkerja dengan kondisi badan nampak letih, lesu nan lunglai dan berbuka dengan hidangan yang menyegarkan juga menggugah selera makan, memejamkan mata semalaman penuh guna memulihkan tubuh untuk menyambut esok hari. Terdengar sayup-sayup di telinga beberapa warga berkeliling sekitaran kampung sembari menutuk kentongan dengan berduyun-duyun, raut mereka kelihatan antusias membangunkan orang-orang yang hendak menyantap menu sahur.

Beberapa kalangan masyarakat menyebutnya dengan “Patrol Sahur”. Berbahan kentongan berukuran paha orang dewasa, sembari sisipan kayu kecil sebagai penabuhnya, tradisi yang lahir sejak zaman Nabi Muhammad SAW ini menjadi kebiasaan warga masyarakat manakala dating bulan suci ramadan untuk membuat sebuah bunyi-bunyian diiringi dengan sahutan tertentu sebagai pengingat telah tiba waktu sahur menjelang sang fajar terbit dari ufuk timur.

Tidak hanya sebatas berfungsi dalam membangunkan orang untuk menyantap hidangan sahur semata, namun lebih dari itu, patrol sahur menanamkan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam aktivitasnya. Atas dasar gotong royong antar warga masyarakat untuk mengadakan aktivitas pada waktu pagi-pagi buta ini, interaksi sosial terjalin secara intensif tatkala mereka berkeliling mengitari kawasan lingkungan tempat tinggal mereka.

Di berbagai daerah di Indonesia, penamaan patrol sahur cukup beraneka ragam, di wilayah Sulawesi misalnya, tradisi ini dinamai dengo-dengo, tentu menjadi sebuah nama yang unik dan masih asing terdengar di telinga bukan? Lain hal-nya di wilayah Jawa Barat, yang mana masyarakat sekitar menamainya sebagai ubrug-ubrug.

Nyatanya perkembangan zaman tidak secara signifikan mengurangi minat tradisi turun-temurun ini, banyak diantaranya dari kalangan muda yang berinisiatif memodifikasi aktivitas patrol sahur dengan menggunakan peralatan lebih modern, tidak hanya menggunakan kentongan. Mereka menggunakan peralatan seperti sound system, lampu LED, hingga variasi hiasan yang menarik berciri khas kekinian.

Kesan kerlap-kerlip lampu yang ditampilkan dengan visual yang bagus, secara otomatis memantik warga untuk turut serta menyaksikan sudah selayaknya pameran parade keliling tanpa biaya. Alunan music yang disajikan pun tidak sembarangan, mereka tak jarang mengadakan agenda khusus untuk sekadar berlatih di waktu luang menjelang berbuka puasa tiba, sehingga nada dan suara yang dihasilkan pada setiap tabuhannya cukup ena di dengar dan menarik simpati berbagai kalangan.

Hingga kini, tradisi patrol sahur ini masih dilestarikan oleh sebagian kalangan warga masyarakat yang masih menjunjung tinggi budaya pada momen bulan ramadan, namun kiranya lambat laun tradisi ini mulai tergeser oleh aktivitas lainnya yang dinilai lebih menarik dan sesuai dengan situasi sekarang. Katakanlah, terdapat aktivitas seperti hal-nya Sahur On The Street yang banyak digandrungi anak muda daripada menutuk kentongan dan berkeliling kampung, atau hanya sekadar menyaksikan program-program acara di stasiun televisi tertentu.

Sejatinya, apapun jenis aktivitas dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat memiliki tujuan yang sama tanpa mengurangi esensi dari memaknai datangnya bulan ramadan. Pelestarian budaya lintas generasi dan penyesuaian sangatlah diperlukan dalam menjaga tradisi mulia menuju kemenangan nan fitri pada akhirnya.

 

Widget Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup