Siswa TK di Pemalang Diduga Keracunan Program MBG, Wabup: SPPG Harus Dievaluasi
Pemalang — Dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Kali ini, seorang siswa TK di Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Dilansir dari laman Erapos Online, korban yang berinisial S mengalami muntah hebat tidak lama setelah meminum minuman selasih yang termasuk dalam menu MBG.
Minuman tersebut disediakan oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Bumirejo pada Kamis, 12 Maret 2026.
Akibat kondisinya yang memburuk, siswa tersebut akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Salah satu orang tua murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, minuman selasih atau es kuwut yang dibagikan kepada siswa sudah berbusa sejak pertama kali dibagikan.
“Hari ini–Kamis 12 Maret 2026 menunya es kuwut, roti tawar dan telur. Es kuwut sudah berbusa sejak dibagikan, telur juga sudah bau,” ujar orang tua murid tersebut pada Kamis, 12 Maret 2026 malam.
Ia juga menyebut kondisi menu MBG yang dinilai kurang baik bukan pertama kali terjadi. Namun, menurutnya, keluhan dari para orang tua sering kali tidak mendapat tanggapan yang memadai.
Wabup Pemalang Minta Evaluasi SPPG
Kepala Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Pemalang yang juga Wakil Bupati Pemalang, Nurkholes, mengatakan pihaknya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait peristiwa tersebut.
“Tentu akan kita cek betul, kenapa bisa terjadi keracunan. Apakah ada unsur kelalaian atau apa yang bisa menyebabkan kejadian ini (keracunan) yang jelas SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) harus dievaluasi,” ujar Nurkholes saat dikonfirmasi pada Jumat (13/3/2026) dini hari.
Ia juga mengaku telah menjenguk langsung siswa TK yang menjadi korban keracunan di rumah sakit.
“Tadi saya kunjungi langsung ke rumah sakit. Alhamdulillah kondisinya sudah berangsur-angsur membaik,” tuturnya.
Hingga berita ini diturunkan, korban masih menjalani perawatan di RS Comal Baru.
Penjelasan Kepala Sekolah
Kepala TK Pertiwi Blendung, Waryuni, menjelaskan bahwa siswa yang menjadi korban sempat meminum minuman dari menu MBG saat berada di sekolah.
Menurutnya, selama berada di sekolah kondisi siswa tersebut tidak menunjukkan gejala apa pun.
“Setelah pulang sekolah baru muntah-muntah sejak jam 11 siang hingga sore. Jam 4 sore lalu dibawa ke RS Comal Baru,” ungkap Waryuni.
Ia menjelaskan, menu MBG pada hari itu terdiri dari roti tawar tangkap berisi telur, selada, dan timun, sementara minumannya adalah es kuwut berbahan buah melon.
Waryuni mengaku pihak sekolah tidak selalu mendapatkan informasi mengenai harga atau rincian menu yang diberikan kepada siswa.
Ia juga menyebut pihak sekolah pernah memberikan penilaian terhadap menu MBG, namun tanggapan dari penyedia program dinilai lambat.
“Kadang juga ada itu juga ya ada penilaian lembaran dari menu-menu MBG nya tapi sudah dikasih penilaian tidak direspon, responnya lambat,” katanya.
Meski demikian, menurut Waryuni, kualitas menu MBG sebelumnya cukup baik.
“Ini pas kebetulan menunya kering, kalau yang menu basah ya Alhamdulillah enak-enak terus,” ujarnya.
Ia menambahkan, dugaan keracunan ini merupakan kejadian pertama sejak program MBG dijalankan di sekolahnya.
Menurutnya, kondisi kesehatan siswa juga belum sepenuhnya stabil karena baru sembuh dari sakit.
“Baru kali ini kejadian, kondisi anak juga baru sembuh dari sakit, dua hari dia tidak masuk karena sakit,” katanya.
“Mudah-mudahan diperbaiki dan lebih enak lagi,” imbuhnya.
SPPG Akui Ada Kesalahan Teknis
Wakil Bupati Pemalang yang juga Ketua Satgas MBG, Nurkholes, mengungkapkan pihak SPPG telah mengakui adanya kesalahan teknis dalam proses penyajian menu.
Menurutnya, kesalahan terjadi saat proses pengolahan buah yang digunakan dalam minuman es kuwut.
“Kesalahan yang mereka akui ialah teknis pada waktu nyerut buah yang terlalu lama karena ada ketentuannya yaitu maksimal 4 jam, nah ini yang membuang waktu salah prediksi, dan ini sudah kita ketahui bahwa ini adalah pengakuan,” ungkap Nurkholes usai melakukan sidak di SPPG Pelita Prabu Bumirejo.
Ia menegaskan, kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi Satgas MBG di Kabupaten Pemalang.
“Ini menjadi pembelajaran bagi kami nanti satgas akan menggerakkan bahwa pemantauan harus dilakukan dari desa, dari kecamatan, sampai dinas-dinas terkait,” ujarnya.






