Menu Ayam MBG di Kindang Diduga Lebih Banyak Tulang daripada Daging, Asatu Desak Korwil Telusuri SPPG
Bulukumba — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, kembali menjadi sorotan. Kali ini, aktivis Asatu, M. Rijal, menyoroti menu ayam yang dikeluhkan keluarga penerima manfaat karena diduga lebih banyak tulang daripada daging, padahal makanan tersebut diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar (SD) kelas II. 19/10/2026
Sorotan tersebut muncul setelah pihak keluarga penerima manfaat mengeluhkan kelayakan porsi ayam yang disajikan kepada siswa pada hari jumat (16/10/2026).
Keluhan ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas dan kecukupan makanan yang diterima anak-anak dalam program yang bertujuan mendukung pemenuhan gizi tersebut.
Persoalan menu MBG di Kecamatan Kindang bukan kali pertama menjadi perhatian publik. Sebelumnya, salah satu menu sayuran yang disebut sebagai menu B3 juga sempat disorot karena diduga tidak higienis untuk dikonsumsi.
Kali ini, M. Rijal kembali menerima keluhan masyarakat terkait menu ayam di salah satu sekolah. Berdasarkan keluhan tersebut, porsi ayam yang disajikan dinilai lebih banyak tulang dibandingkan daging.
Selain menyoroti komposisi makanan, Rijal juga mempertanyakan kewajaran porsi dan nilai anggaran menu tersebut. Ia menduga nilai porsi yang disajikan hanya sekitar Rp5.000, sementara menurutnya anggaran untuk siswa SD kelas II semestinya mencapai Rp8.000.
Meski demikian, dugaan mengenai nilai porsi dan kemungkinan adanya mark-up anggaran tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut. Kepastian mengenai ada atau tidaknya penyimpangan harus didasarkan pada dokumen anggaran, rincian belanja, serta ketentuan biaya yang berlaku.
Sebelumnya, menu sayuran yang menjadi sorotan diduga bersumber dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Borong Rappoa. Sementara itu, untuk keluhan terbaru mengenai menu ayam, M. Rijal meminta agar pihak Korwil menelusuri asal penyediaan makanan tersebut guna memastikan SPPG yang bertanggung jawab.
Menurutnya, penelusuran diperlukan agar keluhan masyarakat tidak berhenti sebagai perbincangan, tetapi ditindaklanjuti melalui pemeriksaan terhadap kualitas bahan makanan, kecukupan porsi, serta kesesuaian penyajian dengan ketentuan program MBG.
M. Rijal juga menyoroti sikap Koordinator Wilayah (Korwil) MBG Bulukumba yang dinilainya belum memberikan klarifikasi terbuka terhadap berbagai persoalan yang sebelumnya menjadi sorotan.
Ia mempertanyakan apakah Korwil MBG Bulukumba akan menindaklanjuti keluhan terbaru tersebut, termasuk mengidentifikasi SPPG yang menyediakan menu ayam yang dikeluhkan keluarga penerima manfaat.
“Penerima manfaat membutuhkan makanan bergizi, bukan sekadar makanan yang penting tersalurkan. Program MBG harus benar-benar memperhatikan kualitas, kecukupan porsi, dan pemenuhan gizi anak-anak,” demikian inti sorotan terhadap pelaksanaan program tersebut.
Untuk mendapatkan penjelasan berimbang, pihak Korwil MBG Bulukumba telah dihubungi melalui pesan WhatsApp guna dimintai tanggapan mengenai keluhan menu ayam, dugaan ketidaksesuaian porsi, serta dugaan mark-up anggaran. Namun, hingga berita ini disusun, pesan tersebut belum mendapatkan respons.
M.Rijal pun berharap pihak Korwil MBG segera memberikan penjelasan dan melakukan evaluasi apabila ditemukan ketidaksesuaian di lapangan.
Transparansi mengenai penyediaan menu dan penggunaan anggaran dinilai penting untuk memastikan program MBG berjalan sesuai tujuan, yakni menyediakan makanan yang layak, aman, dan bergizi bagi para siswa.





