Aktivis Asatu Minta Evaluasi Menu MBG B3 di Kindang, Soroti Kesegaran Sayuran dan Kondisi Nasi
BULUKUMBA — Penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bulukumba, di Kecamatan Kindang, mendapat sorotan dari Aktivis Asatu. Sorotan tersebut muncul setelah adanya dokumentasi salah satu paket makanan MBG kategori B3 yang diterima penerima manfaat di Desa Anrihua pada Jumat, 14 Agustus 2026. 16/08/26
Dalam dokumentasi yang diterima, terlihat satu paket menu yang terdiri dari nasi, lauk ayam, serta sayuran berupa jagung, sayuran hijau, dan selada. Aktivis Asatu M. Rijal menilai kondisi sejumlah komponen makanan tersebut perlu menjadi perhatian dan dievaluasi oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap penyediaan makanan MBG.
M. Rijal mengatakan, dari tampilan makanan dalam dokumentasi, kondisi sayuran terlihat kurang segar. Bahkan, pada bagian daun selada terlihat adanya sejumlah perubahan warna atau bintik yang menurutnya perlu diperiksa lebih lanjut untuk memastikan kondisi dan kelayakan bahan makanan tersebut.
“Kalau melihat dokumentasinya, kondisi sayuran perlu menjadi perhatian. Kami tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa sayuran tersebut tidak layak, tetapi kondisi seperti ini seharusnya menjadi bahan evaluasi sebelum makanan diberikan kepada penerima manfaat,” ujar M. Rijal.
Menurutnya, kesegaran bahan makanan merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program MBG. Sayuran yang diberikan kepada penerima manfaat seharusnya melalui proses pemeriksaan sehingga kualitasnya tetap terjaga ketika sampai kepada penerima.
Selain kondisi sayuran, M. Rijal juga menyoroti tekstur nasi dalam paket makanan tersebut. Berdasarkan pengamatan terhadap makanan yang diterima, nasi dinilai tampak cukup padat dan diduga memiliki tekstur yang agak keras.
Ia menilai tekstur makanan juga perlu diperhatikan, terutama apabila menu tersebut diperuntukkan bagi penerima manfaat kategori B3. Menurutnya, makanan seharusnya tidak hanya memenuhi komposisi menu, tetapi juga mudah dikonsumsi oleh penerima manfaat.
“Kami juga melihat nasi dalam paket tersebut diduga agak keras. Ini perlu diperhatikan karena kualitas makanan bukan hanya soal ada atau tidaknya nasi, lauk dan sayur, tetapi juga bagaimana makanan tersebut ketika dikonsumsi,” katanya.
M. Rijal menegaskan bahwa sorotan tersebut merupakan bentuk perhatian dan pengawasan terhadap pelaksanaan program pemerintah. Ia berharap pihak penyelenggara tidak menganggap kritik tersebut sebagai tuduhan, tetapi menjadikannya sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan MBG.
Ia meminta agar setiap paket makanan yang akan disalurkan terlebih dahulu diperiksa secara menyeluruh. Pemeriksaan tersebut, kata dia, dapat mencakup kondisi bahan makanan, kebersihan, tingkat kematangan, kesegaran sayuran, tekstur nasi, serta kondisi makanan secara keseluruhan.
“Harapan kami sederhana, setiap makanan yang dibagikan benar-benar diperiksa terlebih dahulu. Jangan sampai ada bahan yang kondisinya kurang baik atau makanan yang teksturnya tidak sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat,” ujar M. Rijal.
Selain itu, M. Rijal berharap komposisi menu MBG untuk penerima manfaat B3 terus diperhatikan. Menurutnya, variasi makanan dapat menjadi bagian penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat.
Ia juga berharap pada menu tertentu dapat dipertimbangkan pemberian buah atau susu apabila memang sesuai dengan ketentuan, standar menu, serta ketersediaan anggaran program. Namun, menurutnya, penambahan menu tersebut tetap harus mengikuti pedoman gizi yang ditetapkan dalam program MBG.
M. Rijal menekankan bahwa tujuan utama program MBG bukan sekadar membagikan makanan kepada penerima manfaat, tetapi memastikan makanan yang diterima memiliki kualitas yang baik, aman, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan penerima.
Karena itu, ia meminta adanya evaluasi terhadap menu yang dibagikan di Kecamatan Kindang, khususnya setelah munculnya dokumentasi tersebut.
“Kami berharap pihak yang bertanggung jawab melakukan evaluasi. Kalau memang ada kekurangan, segera diperbaiki. Program MBG ini program yang baik dan harus kita kawal bersama agar pelaksanaannya benar-benar memberikan manfaat bagi penerima,” tuturnya.
Sorotan Aktivis Asatu tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara MBG di Kabupaten Bulukumba. Dengan adanya pengawasan dari masyarakat, kualitas makanan yang disalurkan diharapkan dapat terus ditingkatkan.
M. Rijal pun berharap pihak penyelenggara memberikan perhatian terhadap setiap keluhan penerima manfaat dan melakukan evaluasi secara berkala, sehingga pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Kindang maupun wilayah lainnya di Kabupaten Bulukumba dapat berjalan sesuai tujuan program.





